Oleh: indrakila | November 23, 2007

Diplomasi Indonesia Tak Pernah Libatkan Masalah Lingkungan

Depok (ANTARA News) – Manager Program Center for Internasional Relation Studies, Universitas Indonesia (UI), Broto Wardoyo menegaskan Indonesia tidak mempunyai visi tentang lingkungan terutama dalam hal menjalin diplomasi dengan negara-negara di dunia.

“Indonesia dalam berdiplomasi tidak pernah melibatkan lingkungan,” kata Broto, pada acara diskusi publik bertema Ada Apa Dengan Bali? Indonesia dan Perubahan Iklim Global, di Theater Kolam, FISIP-UI, Depok, Jabar, Rabu.

Broto mengatakan Departemen Luar Negeri (Deplu) saat ini masih sibuk membangun citra bahwa Indonesia merupakan negara Islam yang moderat. “Ini menyebabkan Deplu tidak fokus yang jelas mengenai diplomasi yang melibatkan lingkungan,” katanya.

Ia mengatakan isu lingkungan dalam diplomasi sulit ditemukan, yang ada dalam politik luar negeri hanya alasan untuk kepentingan nasional semata.

Menurut dia, rumusan-rumusan dalam politik luar negeri hanya dilakukan oleh kalangan elit, sedangkan masukan dari Non Goverment Organization (NGO) atau LSM sulit masuk dalam rumusan kebijakan politik luar negeri.

“Ini semua terjadi karena tarik-menarik unsur kepentingan kebijakan, dan isu lingkungan tidak akan pernah menang,” jelasnya.

Lebih lanjut Broto mengatakan, isu lingkungan yang terjadi saat ini hanya berdasarkan hipotesis saja, bukan berdasarkan kenyataan yang telah terjadi. “Ke depan lingkungan akan terjadi A, B, C, dan D, dan lima tahun ke depan lingkungan akan terjadi ini dan itu,” katanya mencontohkan.

Sementara itu, Direktur Iklim dan Energi WWF Indonesia, Fitriani Ardiansyah dalam paparannya menjelaskan tidak banyak yang bisa diharapkan dari Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim Global di Bali pada 3-14 Desember 2007 (Bali International Conference on Climate Change-BICCC).

“Tapi paling tidak di Bali akan tercipta peta jalan Bali, yang akan menjadi pembicaraan awal dalam menanggulangi masalah iklim dan global warming,” katanya.

Para pemimpin dunia akan bertemu selama 14 hari dari 3-14 Desember 2007 dan membicarakan langkah-langkah global untuk mengatasi dampak perubahan iklim.

Konferensi tersebut walaupun tidak akan menghasilkan kesepakatan baru, tapi paling tidak diharapkan menjadi awal negosiasi formal pasca Kyoto Protokol yang berakhir pada 2012.(*)

Copyright © 2007 ANTARA


Responses

  1. memang terkesan indonesia kurang membicarakan tentang lingkungan disetiap hubungan dengan negara lain. ada indikasi bahwa hal itu memang disengaja, kenapa?
    kita liat aj kondisi Indonesia sebagai negara berkembang dengan kekayaan alam yang sangat melimpah, namun utang yang juga begitu besar dan tingkat ketergantungan terhadap negara maju yang begitu tinggi. hal ini menghalangi Indonesia untuk membicarakan isu lingkungan, terutama dengan negara maju. coz, satu2nya hal yang bisa dinikmati negara maju dari negara kita is “SDA”, dengan imbalan negara kita di”subsidi Materi”. nah, jika indonesia dengan lantang menyerukan isu lingkungan, tentu saja akan berdampak terhadap upaya negara maju menyerap SDA kita dan hal ini kurang baik bagi negara maju. seperti contoh Exxon dan Freeport. negara kita disupport dana dari perusahaan negara maju semacam itu, namun kita harus rela memberikan SDA dan ngurusi limbah mereka.
    jadi yang”berhak” menyerukan isu lingkungan adalah negara2 yang independent dan kaya saja.

    >> MantaB nian mas ini…Kalo diterusin langsung ke kita-kita ini yang ngaku PENCINTA ALAM atau PENCINTA LINGKUNGAN HIDUP ini mesti gimana mas? tiap ada forum gede semacam TWKM pasti yang didapat ya cuma itu2 aja. petualangan sesuai minatnya sendiri2 dan ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas jluntrungannya. apa itu disengaja juga ya???😛

  2. wah sapa bilang diplomasi Indonesia gak melibatkan isu lingkungan????
    mulai dari Protokol Kyoto, Indonesia sudah menunjukkan komitmennya utk jaga lingkungan, tapi ya emang biasa2 aj, g da greget.
    baru pra UNFCCC di Bali Desember 2007 lalu, Indonesia mengusulkan 2 inisiatif, Coral Triangle Initiative (CTI) tentang penyelamatan terumbu karang n Forestry Eight (F8) tentang pelestarian hutan..(baca aj GATRA edisi khusus 28 Nov 07)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: